Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaHeadlineNasionalNewsPeristiwaPoliticsPolitik

Sempat diskakmat depan hakim, Roy Suryo tertawa lebar lihat Jokowi perlihatkan ijazah di persidangan

×

Sempat diskakmat depan hakim, Roy Suryo tertawa lebar lihat Jokowi perlihatkan ijazah di persidangan

Sebarkan artikel ini
KASUS IJAZAH PALSU: Detik-detik Jokowi perlihatkan ijazahnya dari SD hingga S1 di UGM di depan Roy Suryo dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, hari ini, Kamis (5/11/2026).

Senyum Roy Suryo merekah saat melihat Jokowi memperlihatkan ijazahnya di persidangan kasus ijazah palsu hari ini, Kamis (5/11/2026).

Di depan Majelis Hakim dan pengunjung persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Presiden ke-7 itu akhirnya memperlihatkan seluruh ijazahnya.

Ya, Jokowi menunjukkan ijazahnya dari SD, SMP, SMA, hingga Sarjana.

Hal itu dilakukan Jokowi guna membuktikan keaslian ijazahnya di depan terdakwa kasus pencemaran nama baik yang dilaporkannya, Roy Suryo.

Melihat Jokowi memperlihatkan ijazahnya ke publik, Roy Suryo tertawa lebar.

Dalam foto-foto yang dibagikan akun TikTok @sayasendirireal terlihat Roy Suryo berdiri tepat di samping Jokowi.

Saat Jokowi mengangkat ijazahnya dan menunjukkannya ke pengunjung sidang, Roy Suryo tak kuasa menahan tawanya.

Momen itu tampak dari Jokowi memperlihatkan ijazahnya dari SD hingga kuliah.

Pengakuan Jokowi di persidangan

Sebelum memperlihatkan semua ijazahnya, Jokowi sempat menjelaskan riwayat pendidikannya di depan Majelis Hakim.

“Saudara saksi boleh diterangkan riwayat pendidikan saudara saksi dari SD sampai dengan perkuliahan?” tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“SD saya di SD Negeri nomor 111 Kota Surakarta. SMP di SMP Negeri 1 Kota Surakarta. SMA di SMA Negeri 6 Kota Surakarta. Kemudian melanjutkan S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada,” ungkap Jokowi.

Tak cuma itu, Jokowi juga menjelaskan soal momennya selama berkuliah di UGM.

Jokowi menceritakan apa saja mata kuliah yang ia ambil saat mengenyam pendidikan di Fakultas Kehutaman UGM.

“Di dalam fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada apakah saksi ada mengambil mata kuliah pilihan khusus?” tanya Majelis Hakim.

“Di fakultas kehutanan itu sejak saya masuk tidak ada yang namanya jurusan. Tapi kami para mahasiswa itu diberikan pilihan untuk mengambil mata kuliah pilihan. Di situlah kami ada yang menyebut kamu di jurusan teknologi kayu atau hasil hutan, silvikultur, jurusan ekonomi kehutanan, konservasi hutan, hanya seperti itu,” kata Jokowi.

“Karena saya banyak mengambil mata kuliah pilihan di bidang teknologi hasil hutan atau teknologi kayu seperti mata kuliah struktur dan sifat kayu, kemudian mata kuliah pengeringan kayu, pengawetan kayu, mata kuliah industri kayu lapis, mata kuliah penggergajian, teman-teman saya menyampaikan bahwa saya berada di wilayah jurusan teknologi kayu atau teknologi hasil hutan,” sambungnya.

Skakmat Roy Suryo

Selanjutnya, dalam persidangan tersebut Jokowi juga menjawab tudingan Roy Suryo soal foto palsu di buku skripsinya.

Jokowi menampik bahwa tuduhan Roy Suryo tersebut soal sosok lain di balik skripsinya.

Roy Suryo pernah mengurai pendapat di dalam video Youtube soal tuduhan tersebut.

“Pada menit ke-57 sampai 58, ini saya kutip pendek saya ‘dua kali wali kota, sekali Gubernur, dua kali presiden dan itu lolos. Kalau misalnya ijazahnya benar-benar tidak asli, ijazahnya palsu, ini kan parah banget. Apa pentingnya? ini bisa jadi preseden’. Jadi sebenarnya foto yang ada di dalam ijazah itu Bang Rismon sudah lakukan, saya juga sudah lakukan. Itu bukan Jokowi, itu orang lain dengan nama Dumatno Budi Utomo’. Perlu kami sampaikan yang mulia, Dumatno Budi Utomo ini adalah sepupu jauh saya, satu kakek buyut,” ujar Jokowi skakmat tuduhan Roy Suryo.

Dalam persidangan itu, Jokowi pun menjelaskan soal perjalanannya saat membuat skripsi hingga sidang.

“Skripsi ini kami buat dengan mengajukan proposal judul sampai tiga kali kepada dosen pembimbing skripsi saya yaitu Prof dr Ahmad Soemitro. Kemudian disetujui judul skripsinya adalah Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis Pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta. Dan pada tanggal 23 Oktober 1985, dilakukan ujian skripsi dengan dosen penguji Ir Sofiyan Warsito dan Ir P Burhanudin. Saya dinyatakan lulus dengan nilai A dan kemudian setelah sedikit revisi, skripsi itu saya cetak di percetakan perdana dengan cover dan lembar pengesahan oleh percetakan,” imbuh Jokowi.

Karenanya saat buku skripsinya dipersoalkan Roy Suryo, Jokowi tak terima.

“Tahun 1985 nyatakan ribuan skripsi yang dicetak di percetakan perdana itu semuanya juga seperti itu dan bisa. Bukan hanya skripsi saya saja yang mulia,” kata Jokowi. (TRIBUNNEWSBOGOR.COM)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *