Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaHeadlineHiburanInternasionalLifestyleMancanegaraNewsPeristiwaScience

Kisah Perpustakaan Alexandria, Gudang Ilmu 2.000 Tahun Lalu yang Musnah

×

Kisah Perpustakaan Alexandria, Gudang Ilmu 2.000 Tahun Lalu yang Musnah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Alexander Agung yang dikaitkan dengan gagasan pendirian Perpustakaan Alexandria. (Pinterest @Anakpalingbahagia)

Mendengar kata perpustakaan, kebanyakan orang membayangkan tempat membaca dan meminjam buku. Di era digital, perpustakaan bahkan sudah bertransformasi menjadi pusat informasi dengan ribuan koleksi dan beragam layanan.

Namun, tahukah kamu bahwa sekitar 2.000 tahun lalu dunia pernah punya perpustakaan dengan koleksi yang begitu lengkap? Perpustakaan itu disebut-sebut menampung hampir seluruh ilmu pengetahuan pada zamannya.

Itulah Perpustakaan Alexandria di Mesir yang dikenal sebagai pusat studi dan peradaban terdepan di masanya.

Gagasan dari Alexander Agung

Dilansir dari laman UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang, pendirian perpustakaan ini dikaitkan dengan Alexander Agung, penakluk Mesopotamia yang menyebarkan budaya Yunani ke berbagai penjuru dunia.

Gagasan tersebut diwujudkan oleh penguasa Mesir saat itu, Ptolemeus I, dengan bantuan Demetrius dari Phaleron. Mereka mengumpulkan dan menerjemahkan naskah dari berbagai belahan dunia hingga terbentuk gudang ilmu pengetahuan yang luar biasa.

Hasilnya, kota Alexandria menjelma menjadi pusat akademik dan riset ilmiah di kawasan Mediterania.

Ratusan Ribu Gulungan Papirus

Pada masa ketika buku masih sangat langka, Perpustakaan Alexandria sudah menyimpan lebih dari 700.000 gulungan papirus dan manuskrip dari berbagai penjuru dunia.

Koleksinya tidak hanya banyak, tetapi juga beragam. Di sana tersimpan karya filsuf ternama seperti Plato dan Aristoteles, naskah kuno dari Mesir dan Mesopotamia, hingga buku-buku tentang matematika dan astronomi.

Magnet Para Cendekiawan

Perpustakaan ini menjadi magnet bagi para cendekiawan dunia. Mereka datang untuk belajar, bertukar gagasan, dan menghasilkan karya bersama, mirip dengan konsep co-working space masa kini.

Saking lengkapnya koleksi di sini, konon seorang ilmuwan cukup menyebutkan topik yang ingin dipelajari kepada pustakawan, dan perpustakaan ini hampir pasti memilikinya. Tak heran jika Alexandria dijuluki “harta karun” bagi peradaban manusia saat itu.

Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan modern di Alexandria, Mesir, yang menjadi penerus Perpustakaan Alexandria kuno. (Pinterest @eidmenna98) (id.pinterest.com)

Hancur Dilalap Api

Namun, kejayaan itu tak bertahan selamanya. Pada 48 SM, Julius Caesar, seorang pemimpin militer dan politik Romawi terlibat pertempuran sengit di Alexandria saat berperang melawan Pompeius.

Api yang berkobar selama beberapa hari disebut-sebut melahap koleksi perpustakaan. Dikutip dari laman UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang, ada dua teori yang beredar tentang penyebabnya.

Teori pertama menyebut Caesar, yang terjebak di istana Alexandria, membakar kapal-kapal Mesir di pelabuhan. Api kemudian merembet ke perpustakaan yang berada di dekatnya.

Teori kedua menyebut api berasal dari kelalaian. Konon, seorang prajurit Romawi yang mabuk tidak sengaja membakar gulungan papirus, lalu api menyebar cepat ke seluruh ruangan.

Pelajaran bagi Dunia

Apa pun penyebabnya, tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa pengetahuan, sejarah, dan budaya harus dilestarikan sekuat tenaga.

Hilangnya Perpustakaan Alexandria membuat banyak karya kuno lenyap selamanya sekaligus memutus kesinambungan ilmu pengetahuan. Sebagian pengetahuan diperkirakan harus ditemukan ulang berabad-abad kemudian.

Kisah ini pula yang mendasari berdirinya Perpustakaan Alexandria modern, yakni Bibliotheca Alexandrina pada 2002, yang dibangun untuk menghidupkan kembali semangat pendahulunya. (TRIBUNJOGJA.COM)
Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *